Selasa, 11 Desember 2012

Syarat Judul Skripsi atau Thesis

             Syarat Judul Skripsi atau Thesis
                                                                        Written by Ari Julianto



    Judul sebuah skripsi/thesis selalu menjadi patokan awal dan perdebatan bagi para mahasiswa, dosen, sekretaris program studi (prodi), ketua prodi dan bahkan dekan yang bersangkutan. Sudah berpuluh judul yang diajukan mahasiwa dan berpuluh judul juga ditolak. Walhasil, mahasiswa itu akan mengalami keputus-asaan, dan bahkan mengarah pada stress dan trauma.
    Menurut saya, judul-judul yang diajukan para mahasiswa itu sebenarnya tidak ada yang berstatus 'ditolak'. Semuanya layak untuk dijadikan judul skripsi. Hanya saja, banyak pertimbangan yang harus dilakukan seperti, penelitian tersebut sudah pernah dilakukan dalam rentang waktu belum setahun, terlalu simple dan variablenya sangat sederhana, akan menyulitkan mahasiswa itu sendiri nantinya, atau tidak ada manfaatnya sama sekali bagi orang lain.
    Dan itulah sebenarnya tugas sekretaris dan ketua prodi untuk mengarahkan judul yang diajukan mahasiswa itu menjadi tepat dan terarah. Secara pribadi, saya kurang setuju dengan sikap aksi membuat tanda silang (X) pada setiap judul yang diajukan para mahasiswa. Tindakan seperti itu sama seperti memberi warna merah pada angka 5 di nilai rapor siswa. Dampak psikologisnya memang tidak terlihat secara langsung namun jika hal tersebut terjadi secara berulang-ulang maka akan memiliki fatal effect.
    Saya tidak memihak dari sisi manapun sebab di satu sisi, mahasiswa itu sendiri juga kurang paham dengan judul yang dia ajukan. Sudah pasti dalam hal ini para dosen lebih berperan besar membantu, mengarahkan dan membimbing para mahasiswa yang ilmu semasa perkuliahan itu sedikit dicerna.
    Namun, yang terpenting adalah judul yang diajukan itu memang harus memiliki syarat seperti yang dikemukakan Arikuntodalam Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Syarat-syarat tersebut antara lain:
1. Harus sesuai dengan minat,
2. Harus dapat dilaksanakan,
3. Harus tersedia faktor pendukung,
4. Harus bermanfaat bagi ilmu pengetahuan adean praktek,
5. Bukan merupakan ulangan

     Lebih lanjut Arikunto menyatakan bahwa judul skripsi atau penelitian itu harus memiliki rumusan yang jelas sehingga ia menggambarkan antara lain:
1. Sifat dan jenis penelitian,
2. Objek yang diteliti,
3. Subjek penelitian,
4. Lokasi/daerah penelitian,
5. Tahun/waktu terjadinya peristiwa

     Prosedur pengajuan judul untuk setiap fakultas atau perguruan tinggi memang tidak sama. Saya belum melihat idealnya prosedur tersebut bagaimana. Apakah harus tiga judul atau satu judul saja.
     Seorang sahabat saya semasa kuliah dulu pernah menyarankan agar judul yang diajukan tersebut hanya satu judul saja.Namun, si mahasiswa wajib mengetahui jenis, metode, rancangan, permasalahan, signifikan, serta prosedur penelitian dan sebagainya.
     Kita semua sama-sama mengerti bahwa English is a foreign language and not our mother tongue besides students are just beginning to be researchers not real ones.  

(Dari berbagai sumber)
Demikianlah pembahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Senin, 10 Desember 2012

Penggunaan Tense dalam Skripsi/Thesis

Penggunaan Tense dalam Skripsi/Thesis
 

Written by Ari Julianto   

Penggunaan tense dalam penulisan skripsi, thesis atau karya tulis ilmiah lainnya memang mempengaruhi interpretasi para pembaca teks Anda. Sebagaimana kita ketahui, past tense memberi kesan perspektif masa lalu dimana hal itu bisa membuat para pembaca kembali ke belakang. Sementara present tense sering digunakan untuk peristiwa secara umum.
    Berikut ini saya mencoba menyampaikan deskrpsi ringkas penggunaan tense dalam penulisan skripsi/thesis atau karya tulis ilmiah lainnya. Tense dalam kata kerja yang Anda pilih memiliki peran penting bagi para pembaca dan ia bukan sekedar kerangka waktu (time frame).
    Pada umumnya dalam suatu skripsi/thesis atau karya tulis ilmiah lainnya terdapat empat bentuk tenses yang sering dipakai antara lain:

1. The present tense
      Ini digunakan untuk generalisasi (dalam pandangan, statement poin pokok) yang relevan secara umum. Juga melaporkan posisi seorang teoritis atau peneliti dalam melaporkan hasil penelitiannya.

2. The past tense
      Ini digunakan untuk mengklaim non-generality literatur masa lalu, yakni melaporkan atau mendeskripsikan isi, temuan atau kesimpulan riset terdahulu. 

3. The present perfect
      Ini digunakan untuk mengindikasikan adanya data khusus yang masih berkelanjutan, atau menyajikan suatu pandangan bentuk non-integral referencing (nama si penulis tidak muncul dalam teks kalimat, ia muncul hanya dalam parentheses).

4. The future tense
      Ini sering digunakan di bagian methodology dalam sebuah proposal untuk menyatakan minat untuk melakukan sebuah penelitian.Jika ketika Anda mendeskripsikan apa yang muncul dalam tulisan, gunakanlah present tense bukan future sebab Anda sudah melakukan penelitian tersebut misalnya The sections below describe the process of …, bukan The sections below will describe the process of

Demikianlah pembahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Prinsip Pembelajaran

  Prinsip Pembelajaran
           Written by Ari Julianto


I. Defenisi Prinsip Pembelajaran
        Prinsip dikatakan juga landasan dan berupa kerangka teoretis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoretis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi
1) bahan yang akan dibelajarkan,
2) prosedur pembelajaran (bagaimana siswa belajar dan bagaimana guru mengajarkan bahan), 3) gurunya, dan
4) siswanya.
 
II Ragam Prinsip Pembelajaran   
Prinsip pembelajaran dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu
1. Prinsip umum
       Yaitu prinsip pembelajaran yang dapat diberlakukan/berlaku untuk semua mata pelajaran di suatu sekolah/program pendidikan. Prinsip-prinsip umum pembelajaran di antaranya sebagai berikut.

a.  Prinsip motivasi
       Yaitu dalam belajar diperlukan motif-motif yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Dengan prinsip ini, guru harus berperan sebagai motivator siswa dalam belajar.

b. Prinsip belajar sambil bekerja/mengalami
       Yaitu dalam mempelajari sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan keterampilan haruslah melalui pengalaman langsung, seperti belajar menulis siswa harus menulis, belajar berpidato harus melalui praktik berpidato.

c. Prinsip pemecahan masalah
       Yaitu dalam belajar siswa perlu dihadapkan pada situasi-situasi bermasalah dan guru membimbing siswa untuk memecahkannya.

d. Prinsip perbedaan individual
       Yaitu setiap siswa memiliki perbedaan-perbedaan dalam berbagai hal, seperti intelegensi, watak, latar belakang keluarga, ekonomi, sosial, dan lain-lain. Dengan demikian, guru dalam kegiatan pembelajaran dituntut memperhitungkan perbedaa-perbedaan itu.

2. Prinsip khusus
       Yaitu prinsip-prinsip pembelajaran yang hanya berlaku untuk satu mata pelajaran tertentu, seperti pembelajaran bahasa Indonesia. Setiap mata pelajaran memiliki banyak prinsip khusus. Prinsip-prinsip khusus pembelajaran bahasa Indonesia di antaranya sebagai berikut.

a. Ajarkan bahasa, bukan tentang bahasa
       Yaitu pembelajaran bahasa merupakan aktivitas membina siswa mempergunakan bahasa sebagai alat komunikasi sebagai penutur bahasa. Artinya, siswa dilatih keterampilan berbahasa yang hanya dikuasai melalui praktik berbahasa. Jadi, pembelajaran bahasa merupakan kegiatan untuk menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi yang harus dilakukan melalui praktik menggunakan bahasa. Bukan sebaliknya, pembelajaran bahasa adalah aktivitas mempelajari teori atau pengetahuan tentang bahasa.

b. Bahasa target bukan sekedar objek pembelajaran, tetapi juga wahana komunikasi dalam proses pembelajaran atau di kelas.
       Artinya, kegiatan pembelajaran tidak semata-mata ditujukan untuk mengenal dan menguasai bahasa target. Akan tetapi, proses pembelajaran harus menjadikan bahasa itu sebagai wahana dalam berkomunikasi, yaitu dengan menggunakan bahasa target dalam setiap kesempatan berkomunikasi tentang topik-topik di luar bahasa (pendekatan komunikatif).

c. Sejauh mungkin gunakan bahasa otentik yang digunakan dalam konteks nyata sebagai sumber bahan ajar, seperti bahasa di surat kabar, bahasa nyata dalam kehidupan.

d. Setiap bahasa memiliki sistem bahasanya sendiri. Untuk itu, dalam mempelajari bahasa kedua harus menjaga jangan sampai terjadi interferensi (pengaruh) bahasa pertamanya terhadap bahasa kedua yang dipelajari.

(Dari berbagai sumber)
Demikianlah pembahasan kita kali ini. Semoga bermanfaat. Amin.

Minggu, 09 Desember 2012

Teknik Pembelajaran


Teknik Pembelajaran
      Written by Ari Julianto

    Untuk mencapai tujuan pembelajaran, ada suatu alat lain yang digunakan langsung oleh guru yakni teknik.Teknik merupakan langkah-langkah yang diterapkan dalam pembelajaran di kelas yang berisikan trik, strategi, atau urutan kegiatan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Teknik harus sesuai dengan metode dan pendekatan.
    Dengan kata lain, teknik merupakan cara mengerjakan atau melaksanakan sesuatu. Jadi, teknik pengajaran atau mengajar adalah daya upaya, usaha-usaha, cara-cara yang digunakan guru untuk melaksanakan pengajaran atau mengajar di kelas pada waktu tatap muka dalam rangka menyajikan dan memantapkan bahan pelajaran agar tercapai tujuan pembelajaran (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator setelah kurikulum 2004) saat itu.
    Oleh sebab itu, teknik bersifat implementasional (pelaksanaan) dan terjadinya pada tahap pelaksanaan pengajaran (penyajian dan pemantapan). Kalau kita perhatikan guru yang sedang mengajar di kelas, maka yang tampak pada kegiatan guru -murid itu adalah teknik mengajar.
    Teknik pembelajaran ditentukan berdasarkan metode yang digunakan, dan metode disusun berdasarkan pendekatan yang dianut. Dengan kata lain, pendekatan menjadi dasar penentuan metode, dari metode  dapat ditentukan teknik. Karena itu, teknik yang digunakan guru dapat bervariasi sekali. Untuk metode yang sama dapat digunakan teknik pembelajaran yang berbeda-beda, bergantung pada berbagai faktor.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi  penentuan teknik pembelajaran di antaranya
a situasi kelas,
b lingkungan,
c kondisi siswa, sifat-sifat siswa, dan kondisi yang lain.
    Seperti halanya prinsip, pendekatan, dan metode, teknik pembelajaran dapat dibagi atas dua bagian, yaitu
1. Teknik Umum 
Yakni cara-cara yang dapat digunakan untuk semua bidang studi. Teknik umum di antaranya sebagai berikut.
a. teknik ceramah
b. teknik tanya jawab
c. teknik diskusi
d. teknik ramu pendapat
e. teknik pemberian tugas
f. teknik latihan
g. teknik inkuiri
h. teknik demonstrasi
i. teknik simulasi.
    Nama-nama teknik umum ini sama seperti nama-nama metode umum, namun wujudnya tentu berbeda. Misalnya ceramah. Sebagai metode, ceramah mencakup pemilihan, penyusunan, dan penyajian bahan. Bahkan, metode ceramah juga mencakup bagaimana menyajikan bahan, dan biasanya teknik ceramah itu hanya salah satu teknik yang dipakai dalam suatu pertemuan atau kegiatan belajar mengajar.

2. Teknik  khusus
    Yakni cara mengajarkan (menyajikan atau memantapkan) bahan-bahan pelajaran bidang studi tertentu. Teknik khusus pengajaran bahasa mempunyai ragam dan jumlah yang sangat banyak. Hal ini karena teknik mengacu kepada penyajian materi dalam lingkup yang kecil.
    Sebagai contoh, teknik pengajaran keterampilan berbahasa terdiri atas teknik pembelajaran membaca, teknik pembelajaran menulis, teknik pembelajaran berbicara, teknik pembelajaran menyimak, teknik pembelajaran tata bahasa, dan teknik pembelajaran kosa kata. Pembelajaran membaca terbagi pula atas teknik pembelajaran membaca permulaan dan teknik pembelajaran membaca lanjut. Masing-masing terdiri pula atas banyak macam.

Perbedaan antara metode dan teknik
Metode
1 Mencakup semua tahap dalam proses belajar mengajar.   
2 Bersifat prosedural (menggam-barkan prosedur  langkag-langkah menyeluruh proses belajar mengajar).
3. Tidak tampak, tidak bisa dideteksi dengan jelas dengan melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
4. Ditunjukkan untuk mencapai tujuan umum pengajaran (TIU/ TPU pada kurikulum sebelum 2004, KD pada kurikulum setelah 2004).
5.Jumlahnya hanya satu (satu metode khusus) untuk satu bidang studi dalam satu program.
6. Metode pengajaran (metode khusus) ditetapkan oleh kurikulum, guru tinggal mengi-kutinya.
   
Teknik
1. Hanya tertuju kepada satu tahap proses belajar mengajar, yaitu pada tahap pelaksanaan.
2. Bersifat implementasional (menggambarkan pelaksanaan pengajaran di kelas).
3. Tampak pada saat melihat guru yang sedang mengajar di kelas.
4. Ditujukan untuk mencapai tujuan khusus (TIK/TPK pada kurikulum sebelum 2004, indikator untuk kurikulum setelah 2004) suatu pertemuan.
5. Jumlahnya sangat banyak untuk setiap pengajaran bidang studi dalam suatu program.
6. Guru bebas memilih teknik asal cocok dan dapat mencapai tujuan pengajaran bahan yang sedang diajarkannya.

(Dari berbagai sumber)
Demikianlah pembahasan untuk metode pembelajaran. Semoga bermanfaat. Amin.

Model Pembelajaran



                                Model Pembelajaran
 

                                                                  Written by Ari Julianto


I Defenisi Model Pembelajaran
       Model Pembelajaran sebenarnya memiliki makna yang lebih luas daripada makna pendekatan, strategi, metode, dan teknik. Model pembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas.
       Setiap model mengarahkan para pendidik dalam merancang pembelajaran untuk membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran. Selain itu, model pembelajaran merupakan model belajar. Dengan model tersebut guru dapat membantu siswa mendapatkan atau memperoleh informasi, ide, keterampilan, cara berpikir, dan mengekspresikan ide diri sendiri. Selain itu, model belajar juga mengajarkan bagaimana mereka belajar.

II Struktur Model pembelajaran
        Struktur Tugas: cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan siswa.
Struktur Tujuan: Saling ketergantungan yang dibutuhkan siswa pada saat mengerjakan tugas
Struktur Penghargaaan: individualistik (keberhasilan seseorang ditentukan oleh orang itu sendiri tidak dipengaruhi oleh orang lain), kompetitif (keberhasilan seseorang dicapai karena kegagalan orang lain, ada ketergantungan negatif), kooperatif (keberhasilan seseorang karena keberhasilan orang lain).
       Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki lima unsur dasar yaitu
(1) syntax, langkah-langkah operasional pembelajaran,
(2) social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran,
(3) principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa,
(4) support system,segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang mendukung pembelajaran, dan
(5) instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar(nurturant effects).

III Contoh Model Pembelajaran
        Ada banyak model pembelajaran yang dapat digunakan dalam implementasi pembelajaran di antaranya sebagai berikut

1 Model Reasoning and Problem Solving
    Reasoning merupakan bagian berpikir yang berada di atas level memanggil (retensi), yang meliputi: basic thinking, critical thinking, dan creative thinking. Termasuk basic thinking adalah kemampuan memahami konsep. Kemampuan-kemapuan critical thinking adalah menguji, menghubungkan, dan mengevaluasi aspek-aspek yang fokus pada masalah, mengumpulkan dan mengorganisasi informasi, memvalidasi dan menganalisis informasi, mengingat dan mengasosiasikan informasi yang dipelajari sebelumnya,menentukan jawaban yang rasional,melukiskan kesimpulan yang valid, dan melakukan analisis dan refleksi.
       Problem adalah suatu situasi yang tak jelas jalan pemecahannya yang mengkonfrontasikan individu atau kelompok untuk menemukan jawaban dan problem solving adalah upaya individu atau kelompok untuk menemukan jawaban berdasarkan pengetahuan, pemahaman, keterampilan yang telah dimiliki sebelumnya dalam rangka memenuhi tuntutan situasi yang tak lumrah tersebut.
2 Model Inquiry Training
    Untuk model ini, terdapat tiga prinsip kunci, yaitu pengetahuan bersifat tentatif, manusia memiliki sifat ingin tahu yang alamiah, dan manusia mengembangkan indivuality secara mandiri. Prinsip pertama menghendaki proses penelitian secara berkelanjutan, prinsip kedua mengindikasikan pentingkan siswa melakukan eksplorasi, dan yang ketiga—kemandirian, akan bermuara pada pengenalan jati diri dan sikap ilmiah. 

3 Model Problem-Based Instruction
    Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik.

4 Model Pembelajaran Perubahan Konseptual
    Pengetahuan yang telah dimiliki oleh seseorang sesungguhnya berasal dari pengetahuan yang secara spontan diperoleh dari interaksinya dengan lingkungan.Sementara pengetahuan baru dapat bersumber dari intervensi di sekolah yang keduanya bisa konflik, kongruen, atau masing-masing berdiri sendiri. Dalam kondisi konflik kognitif, siswa dihadapkan pada tiga pilihan, yaitu:
(1) mempertahankan intuisinya semula,
(2) merevisi sebagian intuisinya melalui proses asimilasi, dan
(3) merubah pandangannya yang bersifat intuisi tersebut dan mengakomodasikan pengetahuan baru.

5 Model Group Investigation
         Ide model pembelajaran group investigation bermula dari perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang harus memiliki pasangan atau teman. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan pembelajaran yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran (kompetensi pembelajaran), dan pengelolaan kelas.

IV. Fungsi Model Pembelajaran
        Fungsi model pembelajaran adalah sebagai pedoman perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Karena itu, pemilihan model sangat dipengaruhi oleh sifat dari materi yang akan dibelajarkan, tujuan (kompetensi) yang akan dicapai dalam pembelajaran tersebut, serta tingkat kemampuan peserta didik.

V. Ciri Model Pembelajaran
        Suatu rancangan pembelajaran atau rencana pembelajaran disebut menggunakan model pembelajaran apabila mempunyai empat ciri khusus, yaitu
(a)  rasional teoretik yang logis yang disusun oleh penciptanya atau pengembangnya,
(b) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan pembelajaran yang akan dicapai),
(c) tingkah laku yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan secara berhasil, dan
(d)  lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat tercapai.
         Selain itu model pembelajaran akan memuat antara lain:
(a) deskripsi lingkungan belajar,
(b) pendekatan, metode, teknik, dan strategi,
(c) manfaat pembelajaran,
(d) materi pembelajaran (kurikulum),
(e) media, dan
(f) desain

(Dari berbagai sumber)

Demikianlah pembahasan untuk metode pembelajaran. Semoga bermanfaat. Amin.