Sabtu, 05 Oktober 2013

Hakikat Keterampilan Berbicara (Speaking)

     Hakikat Keterampilan Berbicara (Speaking)


Written by Ari Julianto



Keterampilan (skill) merupakan kecakapan,kecekatan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik dan cermat. Keterampilan berbicara termasuk salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai seorang  yang tengah mempelajari keterampilan berbahasa selain menulis (writing), membaca (reading) dan mendengarkan (listening).


I. Definisi

Menurut Tarigan (1981:15), berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantis dan linguistik yang sangat intensif. Lebih lanjut Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,gagasan dan perasaan orang tersebut.

Sementara Brown dan Yule dalam Nunan (1989: 26) berpendapat bahwa berbicara  adalah menggunakan bahasa lisan yang terdiri dari ucapan yang pendek, tidak utuh atau terpisah-pisah dalam lingkup pengucapan. Pengucapan tersebut sangat erat berhubungan dengan hubungan timbal balik yang dilakukan antara pembicara satu dengan pendengar.

Sedangkan menurut Djago Tarigan (1995: 149) berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan. Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampaian sangat berat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yakni bunyi bahasa. Pendengar kemudian mencoba mengalihkan pesan dalam bentuk bunyi bahasa itu menjadi bentuk semula.

II. Percakapan
Percakapan (conversation) merupakan salah satu bentuk realisasi dari keterampilan berbicara.  Definisi dari percakapan ini banyak variasinya. Disini hanya menampilkan tiga definisi dari kamus berbeda.

- Jika Anda mengadakan percakapan dengan seseorang, Anda berbicara dengannya, dan biasanya dalam situasi yang tidak resmi (Collins’ COBUILD English Dictionary).
-Pembicaraan yang tidak resmi dimana orang-orang saling bertukar berita, perasaan dan pemikiran (Longman Dictionary of Contemporary English).
- Suatu pembicaraan yang tidak resmi melibatkan sekelompok kecil orang atau hanya dua orang; aktivitas pembicaraannya pun dengan cara yang sama. (Oxford Advanced Learner’s Dictionary)
Menurut Thornbury dan Slade (2006: 25), percakapan umumnya dalam bentuk tidak resmi, suatu pembicaraan yang interaktif antara dua atau lebih orang yang terjadi dalam waktu yang nyata dan spontan, memiliki fungsi interpersonmal yang luas dan mereka yang terlibat berbagi hak yang simetris.

Lebih lanjut Thornbury dan Slade (2006: 8) menyebutkan ciri-ciri percakapan dan implikasinya, antara lain :
1.Diucapkan,
2.Spontan dalam waktu yang nyata,
3.Terjadi konteks yang berbagi,
4. interaktif, konstruktif, dan resiprokal,
5. Berfungsi secara interpersonal,
6. Dalam bentuk informal, dan
7. Mengungkapkan keinginan, perasaan, sikap dan penilaian.

III. Tujuan Keterampilan Berbicara

Tujuan umum berbicara menurut Djago Tarigan (1995:149) terdapat lima golongan yakni
1. Menghibur Berbicara
Si pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, menggairahkan, kisah-kisah jenaka, petualangan, dan sebagainya untuk menimbulkan suasana gembira pada pendengarnya.

2. Menginformasikan
Melaporkan dan dilaksanakan bila seseorang ingin:
a. menjelaskan suatu proses;
b. menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal;
c. memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan;
d. menjelaskan kaitan.

3. Menstimulasi Berbicara
Berbicara itu harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui :
a. kemauan,
b. minat,
c. inspirasi,
d. kebutuhan, dan
e. cita-cita pendengarnya.

4. Menggerakkan Dalam berbicara
Untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya dalam berbicara, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa, pembicara dapat menggerakkan pendengarnya.

Sedangkan, menurut Tarigan (1981:16), berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu:
1. memberitahukan, melaporkan (to inform);
2. menjamu, menghibur (to entertain); dan
3. membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade).

IV. Ragam Bentuk Berbicara
Secara garis besar bentuk berbicara dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu
1. Berbicara di muka umum
Menurut Tarigan (1981: 22-23) beberapa kegiatan berbicara ke dalam kategori tersebut.
a. Berbicara dalam situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, bersifat informatif (informative speaking).
b. Berbicara dalam situasi yang bersifat membujuk, mengajak, atau meyakinkan (persuasive speaking).
c. Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberate speaking).

2. Berbicara dalam konferensi
a. Kelompok resmi (formal),
b. Kelompok tidak resmi (informal)
3. Prosedur Parlementer
4. Berdebat
a. Debat parlementer atau majelis,
b. Debat pemeriksaan ulangan,
c. Debat formal, konvensional atau debat pendidikan

Aktifitas dalam keterampilan berbicara oleh Richards dan Renandya (2002: 209-210), dibagi dalam empat aktivitas:
1. Lisan (aural: oral activities),
2. Gambar (visual: oral activities),
3. Bantuan material (material-aided: oral activities), dan
4. Kesadaran budaya (culture awareness: oral activities).

V. Fungsi Berbicara
Menurut Richards (2008: 21) fungsi berbicara antara lain:
1. Sebagai interaksi (talk as interaction),
Unsur pokoknya antara lain:
a. berfungsi sosial,
b. Merefleksikan hubungan,
c. Merefleksikan identitas pembicara,
d. Bisa jadi formal atau casual,
e. menggunakan syarat percakapan,
f. Merefleksikan tingkat kesopanan,
g. Menggunakan kata-kata generik,
h. Menggunakan percakapan terdaftar/resmi,
i. Terkonstruksi bersama.

2. Sebagai transaksi (talk as transaction)

Unsur pokoknya antara lain:
a. Fokus pada informasi,
b. Berfokus pada psan dan bukan pada partisipan,
c. Menggunakan strategi komunikasi agar bisa dipahami,
d. Ada pertanyan, pengulanghan dan pemahaman,
e. Ada negosiasi,
f.  Akurasi linguistik tidak begitu penting.

3. sebagai kinerja/publik (talk as performance)
Unsur pokoknya antara lain:
a. fokus pada pesan dan audiens,
b. penyusunan dan kata berurut,
c. memenitngkan akurasi dan bentuk,
d. Cen derung bahas tulisan,
e. Sering dalam bentuk monologik.

VI. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Berbicara
Menurut Arsjad dan Mukti (1993: 17-20) mengemukakan bahwa untuk menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara harus menguasai masalah yang sedang dibicarakan, dan harus berbicara dengan jelas dan tepat. Beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk keefektifan berbicara adalah
1. Faktor kebahasaan
Faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, meliputi:
a. Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian harus tepat, begitu juga dengan penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai.
b. Pemilihan kata atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga dapat memancing kepahaman dari pendengar.
c. Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektivan kalimat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan.
Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi:
a. Ucapan,
b. tata bahasa,
c. kosa kata,

2. Faktor non kebahasaan,
a. Sikap yang tidak kaku
b. Kesediaan menghargai pendapat,
c. Pandangan ke pendengar,
d. Gerak-gerik atau mimik tepat,
e. Kenyaringan suara,
f. Kelancaran berbicara,
g. Penguasaan topik.
Penilaian dari faktor non kebahasaan meliputi:
a. ketenangan,
b. volume suara,
c. Kelancaran,
d. pemahaman.

Referensi
Arsjad, Maidar G dan Mukti U.S. 1988.  Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Nunan, David. 1989. Designing Task for the Communicative Classroom. Cambridge: Cambridge University Press.

______. (2003). Practical English Language Teaching. New York: Mc.Graw-Hill Companies.

Richards-Amato, P. 2003. Making it Happen: From Interactive to Participatory Language Teaching. New York: Pearson Education, Inc.

Richards, Jack C. 2008. Teaching Listening  and Speaking From Theory to Practice. London: Cambridge University Press

Richards, J. C. dan Renandya, W. A. 2002. Methodology in Language Teaching: An Anthology of Current Practices. New York: Cambridge University Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1981. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Bandung: Angkasa.

Tarigan, Djago. 1995. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud.

Thornbury, Scott dan Diana Slade. 2006. Conversation: From Description to Pedagogy. Cambridge University Press.

Semoga postingan kali ini bermanfaat bagi kita semua. Amien.

Kamis, 03 Oktober 2013

Definitions of Research from Authors



 Definitions of Research from Authors


Written by Ari Julianto

Research comes from the Middle French word rechercher, meaning “to seek out.” It means writing a research paper requires us to seek out information about a subject, take a stand on it, and back it up with the opinions, ideas, and views of others. What results is a printed paper variously known as a term paper or library paper, usually between five and fifteen pages long—most instructors specify a minimum length—in which we present our views and findings on the chosen subject.

The word research is composed of two syllables, re and search.re is a prefix meaning again, anew or over again search is a verb meaning to examine closely and carefully, to test and try, or to probe. Together they form a noun describing a careful, systematic, patient study and investigation in some field of knowledge, undertaken to establish facts or principles. Below some definitions of research from various authors.

- Kumar Singh, Yogesh. 2006. Fundamental of Research Methodology and Statistic, Mumbai: New Age International Publisher. 
Actually research is simply the process of arriving as dependable solution to a problem through the planned and systematic collection, analysis and interpretation of data. Research is the most important process for advancing knowledge for promoting progress and to enable man to relate more ffectively to his environment to accomplish his purpose and to resolve his conflicts. Although it is not the only way, it is one of the more effective ways of solving scientific problem.

- Mouly, George. 1970. The Science of Educational Research Methods. London: University of London Press Ltd.   
The systematic and scholarly application of the scientific method interpreted in its broader sense, to the solution of social studiesal problems; conversely, any systematic study designed to promote the development of social studies as a science can be considered research.

- Woody, Clifford. 1927 of the University of Michigan the Journal of Social Studies Research. 
Research is a carefully inquiry or examination in seeking facts or principles; a diligent investigation to ascertain something,  according to Webster’s New International Dictionary. This definition makes clear the fact that research is not merely a search for truth, but a prolonged, intensive, purposeful search. In the last analysis,research constitutes a method for the discovery of truth which is really a method of critical thinking. It comprises defining and redefining problems; formulating hypotheses or suggested solutions; collecting, organising and evaluating data; making deductions and reaching conclusions; and at last, carefully testing the conclusions to determine whether they fit the formulating hypotheses.

- Best, John W. 1977. Research in Education, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.
Research is considered to be the more formal, systematic, intensive process of carrying on the scientific methods of analysis. It involves a more systematic structure of investigation, usually resulting in some sort of formal record of procedures and a report of results or conclusions.Research is but diligent search which enjoys the high flavour or primitive hunting.

- McGrath. J. H. 1961. Research Methods and Designs for Education, Pennsylvania: International Textbook Company, An Intent Publisher. 
Research is a process which has utility to the extent that class of inquiry employed as the research activity vehicle is capable of adding knowledge, of stimulating progress and helping society and man relate more efficiently and effectively to the problems that society and man perpetuate and create.

- Creswell, John W. 2012.Educational Research, Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research. Boston: Pearson. 
Research is a process of steps used to collect and analyze information to increase our understanding of a topic or issue. At a general level, research consists of three steps:
1. Pose a question.
2. Collect data to answer the question.
3. Present an answer to the question.


- D. Slesinger and M. Stephenson in the Encyclopaedia of Social Sciences  
Research is the manipulation of things, concepts or symbols for the purpose of generalising to extend, correct or verify knowledge, whether that knowledge aids in construction of theory or in the practice of an art.

-  C.R. Kothari. 2004. Research Methodology, Methods and Technique. Jaipur: New Age International Publisher. 
An original contribution to the existing stock of knowledge making for its advancement. It is the persuit of truth with the help of study, observation, comparison and experiment. In short, the search for knowledge through objective and systematic method of finding solution to a problem is research. The systematic approach concerning generalisation and the formulation of a theory is also research. As such the term ‘research’ refers to the systematic method consisting of enunciating the problem, formulating a hypothesis, collecting the facts or data, analysing the facts and reaching certain conclusions either in the form of solutions(s) towards the concerned problem or in certain generalisations for some theoretical formulation.

- Walliman, Nicholas. 2011. Research Methods The Basic. London: Routledge.
Research is about acquiring knowledge and developing understanding,collecting facts and interpreting them to build up a picture of the world around us, and even within us. It is fairly obvious then, that we should hold a view on what knowledge is and how we can make sense of our surroundings. These views will be based on the philosophical stance that we take.

- Postlethwaitem, T. Neville. 2005. Educational Research:Some Basic Concepts and Terminology. Paris: UNESCO. 
Research is the orderly investigation of a subject matter for the purpose of adding to k nowledge. Resea rch can mean ‘re- search’ implyi ng t hat the subject matter is already known but, for one reason or another, needs to be studied again. Alternatively, the expression can be used without a hyphen and in this case it typical ly means i nvest igat ing a new problem or phenomenon.

 - Richards, Jack C. and Richard Schmidt. 2002. Longman Dictionary of Language Teaching and Applied Linguistics. London. Pearson Education Limited.  
Research is the study of an event, problem or phenomenon using systematic methods,in order to understand it better and to develop principles and theories about it.

Hope today's posting will be useful for all of us. Amien.

Rabu, 02 Oktober 2013

Hakikat Menulis (Writing)

Hakikat Menulis (Writing)

Written by Ari Julianto


Tulisan adalah rekaman peristiwa, pengalaman, pengetahuan, ilmu, serta pemikiran manusia sebagaimana diungkapkan Wiyanto (2004: 4). Hasil menulis yang berisikan rekaman peristiwa biasanya berupa tulisan yang mengandung unsur berita contohnya koran, majalah, dan tabloid. Hasil menulis yang menceritakan pengalaman misalnya catatan harian, jurnal, dan otobiografis. Bentuk tulisan yang mengandung pengetahuan dan ilmu misalnya laporan penelitian, artikel, skripsi, tesis, dan desertasi.  Hasil menulis yang berisikan tentang pemikiran manusia misalnya buku-buku fiksi dan buku-buku non fiksi.

Mengenai hakikat menulis, Hyland (2003: 9) mengatakan bahwa menulis adalah cara menyampaikan, mengungkapkan perasaan dan berbagi pengalaman penulis kepada pembaca dengan menggunakan bahasa tulis.  Menulis menurut Reid (1987: 34) adalah suatu proses untuk mengungkapkan ide, pikiran dan perasaan atau pengalaman penulis dengan menggunakan sistem yang konvensional sehingga pembaca memahami pesan yang dikirim.

Menulis, menurut Heaton JB. (1988) pada prinsipnya adalah suatu aktivitas di mana penulis menuangkan ideanya, pendapatnya, pengalamanya, dan gagasannya ke dalam bentuk linguistik dengan menggunakan kaidah-kaidah menulis seperti isi (content), tata bahasa (structure), mekanik (mechanics), pengorganisasian ide (organization) dan kosa kata (vocabulary) agar dipahami oleh pembaca. Dengan demikian, menulis pada hakikatnya adalah menyampaikan suatu ide kepada pembaca dengan tujuan tertentu dalam konteks sosial yang tertentu. Sejalan dengan itu, Sharples mengatakan bahwa menulis sebagai suatu proses dan aktivitas mental yang kompleks yang memerlukan perencanaan, proses berpikir analitik dan sintetik, pengetahuan dan penguasaan,  fitur linguistik, dan pengetahuan mengenai kondisi lingkungan sosial dan budaya seperti dinyatakan Sharpless (1999: 6).

Menurut Nurgiantoro (1987:270), aktivitas menulis merupakan suatu bentuk manivestasi kemampuan berbahasa paling akhir dikuasai siswa setelah mendengarkan, berbicara, dan membaca.Dibandingkan dengan ketiga kemampuan berbahasa itu, menulis lebih sulit untuk dikuasai.

Sejalan dengan itu, menulis juga dipengaruhi dan dibentuk oleh lingkungan sosial di mana tulisan itu digunakan. Weigle (2002: 29)) mengatakan bahwa menulis bukan semata-mata memerlukan kemampuan kognitif dan linguistik dari penulisnya tetapi juga memahami konteks sosial dan budaya.  Hal ini menjadi relevan  karena menulis berlangsung pada konteks sosial yang memiliki tujuan khusus atau tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pembacanya. Sperling (1996) dalam Weigle (2002: 29) mengatakan bahwa  menulis adalah kegiatan penggunaan bahasa yang dibentuk, ditentukan dan dipengaruhi oleh realitas sosial dan budaya dan individu itu sendiri yang memiliki tujuan sosial.

Berkaitan  dengan menulis  dipengaruhi  dan dibentuk oleh aspek sosial dan budaya, Hayes (1996) dalam Weigle (2002: 19) lebih lanjut berpendapat:
"Menulis pada hakikatnya merupakan produk sosial dan  yang dilaksanakan dan digunakan pada lingkungan sosial. Apa yang ditulis, bagaiamana menulisnya, dan untuk siapa tulisan itu dibentuk dan ditentukan oleh konvensi sosial dan pengalaman interaksi penulis dan pembaca. Genre menulis dihasilkan dan dipengaruhi oleh penulis sendiri dan  frase atau bahasa yang digunakan sering mencerminkan pengalaman bahasa dan penulis sebelumnya yang pernah ditulis."

Sejalan dengan pendapat di atas, dalam menulis berbasis genre khsususnya, seorang penulis juga harus harus memperhatikan dan menguasai hal-hal seperti
1. tujuan menulis (purpose),
2. kepada siapa tulisan itu ditujukan/pembaca (reader),
3. struktur retorik (rhetorical structure),
4. realiasasi penggunaan bentuk kebahasaan (linguistic realization or grammatical patterns), dan
5. perangkat tekstual (textual devices).

Kelima indikator/karakteristik ini harus diimplementasikan oleh penulis agar tulisannya dapat  dipahami oleh penulis sendiri dan pembaca sebagaimana diungkapkan Pardiyono (2007: 8).

Menurut Howard dan Barton (dalam Indriati, 2006:34), menulis adalah
1. kegiatan simbolik yang membuahkan makna,
2. bagaikan kegiatan di atas pentas untuk menyampaikan makna kepada orang lain, dan
3. cara untuk mengekspresikan diri dan alat untuk berkomunikasi dengan orang lain.

Dari ketiga definisi tersebut mengandung makna bahwa menulis merupakan kegiatan di atas kertas. Bahan tulisan di atas kertas bagaikan penampilan pemain drama di atas pentas. Apabila pemain tidak menguasai skenario drama dan  penguasaan panggung, maka penonton tidak akan memahami/mengerti apa yang di maksud oleh pemain drama tersebut. Begitu juga dengan kegiatan menulis, apabila tulisan tidak menarik, dan tidak baik (dalam hal ini tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku) maka pembaca tidak akan mengerti apa yang dimaksud oleh penulis.

Berkaitan dengan menulis sebagai sebuah keterampilan berbahasa yang sulit dan kompleks, White dan Arnd (2001: 3) mengatakan:
"Menulis adalah bentuk pemecahan masalah yang melibatkan proses pengembangan gagasan, menemujkan 'suara' yang akan  ditulis, setting tujuan, memantau dan mengevaluasi aoa yang akan ditulis dan juga yang sudah ditulis serta mencari bahasa yang mengekspresikan arti sebenarnya."

Sulitnya menulis juga diutarakan oleh Hyland (2003: 2) yang mengatakan bahwa
"Menulis itu sulit sebab ia mencakup sejumlah komponen seperti struktur bahasa, fungsi teks, tema atau topkekspresi yang kreatif, proses mengarang, isi dan genre serta konteks penulisan. Dan menulis merupakan tindakan kreatif penemuan diri serta penemuan arti."

Merujuk pada kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis adalah suatu proses menuangkan dan menyampaikan ide dan menemukan ide untuk ditulis, menentukan tujuan, melakukan monitoring dan mengevaluasi apa yang sudah ditulis untuk direvisi dan diperbaiki dengan menggunakan kaidah kebahasaan yang benar untuk menyampaikannya dengan makna yang tepat dan akurat serta efektif.

Berkaitan dengan kejelasan dan keakuratan menulis,  agar  informasi dan pesan yang dituangkan dalam menulis (written text) agar dapat dimaknai oleh pembaca  juga sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti diungkapkan Pardiyon0 (2007: 8) yakni
1. efektivitas penggunaan bahasa,
2. penulis teks, 
3. tulisan itu sendiri,
4. dan pembaca sebagai penerima informasi.

Kemudian Hyland (2003: 79) menambahkan bahwa dalam pembelajaran menulis ada tiga elemen kerangka (tripartite-framework) yang harus dipahami oleh pengajar yang kemudian disebut “elements of a writing pedagogy.”  Ketiga elemen tersebut adalah
1. penulis,
2. teks/tulisan, dan
3. pembaca.
Pemahaman elemen-elemen tersebut sangat membantu pembelajar dan pengajar dalam proses menulis.

Dia lebih lanjut menguraikan ketiga elemen tersebut secara detail.
1.Penulis (Writer-student)-elemen penulis yang perlu diperhatikan oleh pengajar/dosen meliputi
   a kemampuan awal terhadap bahasa yang sedang dipelajari (asing/kedua), latar belakang bahasa pertama, 
   b.pengalaman sebelumnya mengenai kegiatan menulis,
   c kemampuan kognisi secara umum dan faktor motivasi,
   d pengetahuan tentang topik atau tema menulis, dan
   e proses menulis yang diterapkan.
2. Teks (text)-elemen-elemen teks itu sendiri dapat berupa
   a keautentikan dari tujuan dan latihan-latihan/tugas dari menulis itu sendiri,
   b  jumlah dan variasi dari tugas tugas yang diberikan dalam menulis, dan
   c model dan pengembangan serta ekplorasi genre menulis, dan
   d keluasan dan jangkuan kemungkinan retorika dan eksiko-gramatika  yang dibutuhkan dan digunakan.
3. Pembaca (reader)-agar tulisan sesuai dengan sasarannya-pembaca,, seorang penulis juga harus memperhatikan hal-hal seperti
   a orientasi target pembaca khusus atau pembaca wacana tertentu (particular discourse community),
   b kebutuhan riil bagi pembaca yang memiliki dimensi yang beragam,
   c kesadaran akan tingkat kesesuain dari keterlibatan dan interaksi strategi, dan 
   d  pentingnya feedback dan respon dari pembaca.

Menurut Wiyanto (2004:2), kata menulis mempunyai arti kegiatan mengungkapkan gagasan secara tertulis. Gagasan merupakan hasil pemikiran mengenai sesuatu sebagai pokok atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya. Setiap penulis mempunyai pikiran yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan kepada orang lain. Dalam hal ini, menterjemahkan ide-ide kedalam bentuk huruf-huruf.

Huruf dan tanda baca menjadi wakil bunyi bahasa yang berisikan gagasan ditulis di sebuah media untuk disampaikan kepada orang lain. Jadi, pada hakikatnya menulis merupakan proses kegiatan memanfaatkan lambang-lambang grafis untuk menyampaikan ide, gagasan, dan pesan dengan menggunakan alat tulis.

Menurut Angelo (1980: 5)Menulis adalah suatu bentuk berpikir, tetapi justru berpikir bagi membaca tertentu dan bagi waktu tertentu. Salah satu tugas terpenting sang penulis adalah menguasai prinsip-prinsip menulis dan berpikir, yang akan dapat menolongnya mencapai maksud dan tujuannya. Yang paling penting di antara prinsip-prinsip yang dimaksudkan itu adalah penemuan, susunan, dan gaya. Secara singkat belajar menulis adalah belajar berpikir dalam/dengan cara tertentu.

Lebih lanjut Angelo (1980: 20) mengungkapkan, penulis yang ulung adalah penulis yang dapat memanfaatkan situasi dengan tepat. Situasi yang harus diperhatikan dan dimanfaatkan itu sebagai berikut.
1. Maksud dan tujuan sang penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi pada diri pembaca).
2. Pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orang tua, kenalan, atau teman sang penulis).
3. Waktu atau kesempatan (keadaan-keadaan yang melibatkan  berlangsungnya suatu kejadian tertentu, waktu, tempat, dan situasi yang menuntut perhatian langsung, masalah yang memerlukan pemecahan, pertanyaan yang menuntut jawaban, dan sebagainya) .


Referensi

Angelo, Frank J.1980. Composition in the Classical Tradition. New York: Allyn & Bacon.

Howard, V.A. and J.H. Barton. 1986. Thinking on Paper. New York: Harper Collins.

Hyland, Ken. 2003. Second Language Writing. London: Cambridge University Press.

Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. BPFE: Yogyakarta.

Pardiyono. 2007. Pasti Bisa:Teaching Genre Based Writing. Yogyakarta: Andi.

Reid. M. Joy. 1987. Teaching ESL Writing. Wyoming: Prentice Hall Regent.

Ron  White dan  Valerie Arndt. 2001. Process Writing.
New York: Longman.Sharples, Mike. 1999. New York:Routledge.

Weigle, Sarah Cusging. 2002. Assessing Writing. London: Cambridge: Cambridge University Press.

Wiyanto, Asul. 2004. Terampil Menulis Paragraf. Jakarta: Grasindo.




Selasa, 01 Oktober 2013

The Null and Alternative Hypothesis

      The Null and Alternative Hypothesis

Written by Donald Ary et al in Introduction to Research in Education. Belmount: Wadsworth.2010. pp.91-92


I. The Null Hypothesis
It is impossible to test research hypotheses directly. You must fi rst state a null hypothesis (symbolized H0) and assess the probability that this null hypothesis is true. The null hypothesis is a statistical hypothesis. It is called the null ypothesis because it states that there is no relationship between the variables in the population.

A null hypothesis states a negation (not the reverse) of what the experimenter expects or predicts. A researcher may hope to show that after an experimental treatment, two populations will have different means, but the null hypothesis would state that after the treatment the populations’ means will not be different.

What is the point of the null hypothesis? A null hypothesis lets researchers assess whether apparent relationships are genuine or are likely  to be a function of chance alone. It states, “The results of this study could easily have happened by chance.”

Statistical tests are used to determine the probability that the null hypothesis is true. If the tests indicate that observed relationships had only a slight probability of occurring by chance, the null hypothesis becomes an unlikely explanation and the researcher rejects it. Researchers aim to reject the null hypothesis as they try to show there is a relationship between the variables of the study.

Testing a null hypothesis is analogous to the prosecutor’s work in a criminal trial. To establish guilt, the prosecutor (in the U.S. legal system) must provide sufficient evidence to enable a jury to reject the presumption of innocence beyond reasonable doubt. It is not possible for a prosecutor to prove guilt conclusively, nor can a researcher obtain unequivocal support for a research hypothesis.
The defendant is presumed innocent until sufficient evidence indicates that he or she is not, and the null hypothesis is presumed true until sufficient evidence indicates otherwise.

For example, you might start with the expectation that children will exhibit greater mastery of mathematical concepts through individual instruction than through group instruction. In other words, you are positing a relationship between the independent variable (method of instruction) and the dependent variable (mastery of mathematical concepts).

The research hypothesis is “Students taught  through individual instruction will exhibit greater mastery of mathematical concepts than students taught through group instruction.” The null hypothesis, the statement of no relationship between variables, will read “The mean mastery scores (population mean μi) of all students taught by individual instruction will equal the mean mastery scores (population mean μg) of all those taught by group instruction.” H0: μi = μg.

II. The Alternative Hypothesis

Note that the hypothesis “Children taught by individual instruction will exhibit less mastery of mathematical concepts than those taught by group instruction” posits a relationship between variables and therefore is not a null hypothesis. It is an example of an alternative hypothesis.

In the example, if the sample mean of the measure of mastery of mathematical concepts is higher for the individual instruction students than for the group instruction students, and inferential statistics indicate that the null hypothesis is unlikely to be true, you reject the null hypothesis and tentatively conclude that individual instruction results in greater mastery of mathematical concepts than does group instruction.

If, in contrast, the mean for the group instruction students is higher than the mean for the individual instruction students, and inferential statistics indicate that this difference is not likely to be a function of chance, then you tentatively conclude that group instruction is superior.

If inferential statistics indicate that observed differences between the means of the two instructional groups could easily be a function of chance, the null hypothesis is retained, and you decide that insufficient evidence exists for concluding there is a relationship between the dependent and independent variables.

The retention of a null hypothesis is not positive evidence that the null hypothesis is true. It indicates that the evidence is insufficient and that the null hypothesis,the research hypothesis, and the alternative hypothesis are all possible.

Types of Business Research


Types of Business Research

Written by William G. Zikmund, Barry J. Babin, Jon C. Carr, and Mitch Griffin in Business Research Methods. South-Western Cengage Learning. 2009.



Business research covers a wide range of phenomena. For managers, the purpose of research is to provide knowledge regarding the organization, the market, the economy, or another area of uncertainty. 

I. Definition
Business research is the application of the scientific method in searching for the truth about business phenomena. These activities include defining business opportunities and problems, generating and evaluating alternative courses of action, and monitoring employee and organizational performance. Business research is more than conducting surveys.

This process includes idea and theory development, problem definition, searching for and collecting information, analyzing data, and communicating the findings and their implications. This definition suggests that business research information is not intuitive or haphazardly gathered.

Literally, research (re-search) means “to search again.” The term connotes patient study and scientific investigation wherein the researcher takes another, more careful look at the data to discover all that is known about the subject. Ultimately, all findings are tied back to the underlying theory.

The definition also emphasizes, through reference to the scientific method, that any information generated should be accurate and objective. The nineteenth-century American humorist Artemus Ward claimed, “It ain’t the things we don’t know that gets us in trouble. It’s the things we know that ain’t so.” In other words, research isn’t performed to support preconceived ideasbut to test them. The researcher must be personally detached and free of bias in attempting to find truth. If bias enters into the research process, the value of the research is considerably reduced.

Finally, this definition of business research is limited by one’s definition of business. Certainly, research regarding production, finance, marketing, and management in for-profit corporations like DuPont is business research. However, business research also includes efforts that assist nonprofit organizations such as the American Heart Association, the San Diego Zoo, the Boston Pops Orchestra, or a parochial school. Further, governmental agencies such as the Federal Emergency Management Agency (FEMA) and the Department of Homeland Security (DHS) perform many functions that are similar, if not identical, to those of for-profit business organizations. For instance,  the Food and Drug Administration (FDA) is an important user of research, employing it to address the way people view and use various food and drugs. One such study commissioned and funded research to address the question of how consumers used the risk summaries that are included with all drugs sold in the United States. 

II. Types of Business Research
Business research is undertaken to reduce uncertainty and focus decision making. In more ambiguous circumstances, management may be totally unaware of a business problem. Alternatively, someone may be scanning the environment for opportunities. For example, an entrepreneur may have a personal interest in softball and baseball. She is interested in converting her hobby into a profitable business venture and hits on the idea of establishing an indoor softball and baseball training facility and instructional center. However, the demand for such a business is unknown. Even if there is sufficient demand, she is not sure of the best location, actual services offered, desired hours of operation, and so forth. Some preliminary research is necessary to gain insights into the nature of such a situation. Without it, the situation may remain too ambiguous to make more than a seat-of-the-pants decision. In this situation, business research is almost certainly needed.

In other situations, researchers know exactly what their problems are and can design careful studies to test specific hypotheses. For example, an organization may face a problem regarding health care benefits for their employees. Awareness of this problem could be based on input from human resource managers, recruiters, and current employees. The problem could be contributing to difficulties in recruiting new employees. How should the organization’s executive team address this problem? They may devise a careful test exploring which of three different health plans are judged the most desirable. This type of research is problem-oriented and seems relatively unambiguous.

This process may culminate with researchers preparing a report suggesting the relative effect of each alternative plan on employee recruitment. The selection of a new health plan should follow relatively directly from the research.

Business research can be classified on the basis of either technique or purpose. Experiments, surveys, and observational studies are just a few common research techniques. Classifying research by its purpose, such as the situations described above, shows how the nature of a decision situation influences the research methodology. The following section introduces the three types of business research: 

1. Exploratory
Exploratory research is conducted to clarify ambiguous situations or discover potential business opportunities. As the name implies, exploratory research is not intended to provide conclusive evidence from which to determine a particular course of action. 

2. Descriptive
As the name implies, the major purpose of descriptive research is to describe characteristics of objects, people, groups, organizations, or environments. In other words, descriptive research tries to “paint a picture” of a given situation by addressing who, what, when, where, and how questions. 

3. Causal
Causal research seeks to identify causeand-effect relationships. When something causes an effect, it means it brings it about or makes it happen. The effect is the outcome. Rain causes grass to get wet. Rain is the cause and wet grass is the effect. 

III. Stages in the Research Process
Business research, like other forms of scientific inquiry, involves a sequence of highly interrelated activities. The stages of the research process overlap continuously, and it is clearly an oversimplification to state that every research project has exactly the same ordered sequence of activities. Nevertheless, business research often follows a general pattern. We offer the following research business stages:
1. Defining the research objectives
2. Planning a research design
3. Planning a sample
4. Collecting the data
5. Analyzing the data
6. Formulating the conclusions and preparing the report